Showing posts with label pernyataan. Show all posts
Showing posts with label pernyataan. Show all posts

Saturday, October 13, 2012

Bayi Lahir Terlilit Tali Pusar


Partitur-partitur ilalang baiknya kukumpulkan
mesin-mesin kipas angin harusnya aku pilah
sebab, mi rebus dan goreng lah 
satu-satunya kenikmatan proses instan
maka terima kasih Laila Majnun dan Kahlil Gibran
warisan kalian ternyata melelahkan

Aku Echius! maka larilah seperti Pheidippides
amat panjang melelahkan tapi bertujuan
dan berjiwalah seperti Asclepios!

Lampu merah berganti hijau
Sudah saatnya ganti persneling maju
Semua masa lalu
Simpan saja di peti kayu.

Tuesday, September 11, 2012

FTV 27 Hari


Kotak-kotak tembakau cuma jadi pajangan
edamame-nya tak lagi ada tersimpan
pun pemantik berwarna hijau neon stabilo masih terbengkalai dibeli
si Shisanaga dalam perjalanan cuma telah hilang
sia-sia sisa ceria berubah paranoid
ekspektasi nomor provider baru cuma hancur kacau
berkat impuls hormonal seorang pandir berlagak anti Pinocchio

Bagian mana yang dipersiapkan dari main-main
drama kekalahan dipelintir jadi kepastian
dan sesenggukan mana lagi yang dibohongi jantung
intimasi seketika, menyamarkan perpisahan

Iya, kereta secepat ICE cuma tak mungkin 
bermain di kedalaman Esa Ala Cave
Tapi bagaimana disanggah
kalau kini di pembuluh darah
malah terlanjur mengalir: L.A.D.E alamiah

Sunday, January 23, 2011

Kalos, Eidos, Skopos

#percakapanEnam

Saya senang dengan indah. Hal keren. Estetis. Unik. Dan berseni.

Aku sudah dari dahulu. Suka graffiti. Desain grafis pun, kini. Lukisan. Dan foto-foto. Dan lain-lain. Bukan berbakat memang. Cuma kecanduan. Tapi dari hati benar. Mengagumi.

Saya benar bersependapat. Dunia ini sudah jadi seni. Seni ciptaan-Nya. Maka segala hal di dunia. Otomatis seni.

Aku kesenangan. Mari saling sebut apa saja yang bisa indah dan berseni.

Saya memulai. Dari seni mencuri. Sampai seni ber-reproduksi. Seni mengagumi diam-diam. Sampai seni kepengecutan.

Aku menimpali. Dari seni berburu. Sampai seni cemburu. Dari seni membuat makanan. Sampai seni menghajar rahang orang. Dari seni mencela. Sampai seni tak terhingga.

Saya mengakhiri. Seni tak ada habisnya. Begitu banyak hal yang bisa disenikan. Maka artinya tiga kata: indah, bentuk, melihat. Saya bercita-cita. Jadi kaleidoskop. Instrumen yang mampu membuat kami menyaksikan hal. Apapun yang berbentuk indah.

Aku juga mau. Ingin aku berkutip. Anything is art. Termasuk dia. Makanya aku suka.

Thursday, January 20, 2011

Kami dan, Kita

#percakapanEmpat

Aku tadi terburu-buru. Tergesa-gesa. Tergopoh-gopoh. Datang pada saya. Ingin mengadu. Tidak. Ingin mengeluh. Bukan. Ingin berbincang. Iya. Agak sedikit kesal. Tidak. Cukup menghibur. Bukan. Jadi khawatir. Iya.

Katakanlah yang jelas. Saya pada aku. Kenapa mukamu kadang gelap kadang terang seperti lampu dim. Ada yang mengganggu. Atau ada yang mengejek. Ada yang menyindir. ?. Saya jadi sedikit tak sabar.

Tidak, aku cuma masih kurang ilmu. Sepertinya.

Saya berkerut. Tidak mengerti. Kurang ilmu. Tumben kamu haus ilmu. Biasanya haus isu.

Aku merunduk. Tidak. Tidak salah lagi. Aku tidak pernah benar-benar mendalami ilmu resiko.

Ilmu resiko? Saya makin tidak mengerti arah jalur tujuan omongan aku. Apa sebab kamu bisa bilang begitu?

Coba bayangkan. Aku meminta pada saya. Jika kamu berbuat X pada orang lain. Adakah kemungkinan orang lain berbuat X pada kamu?

Saya bengong. Cuma bisa bengong. Kamu berfilosofi apa ngomong. Dalam hati. Iya. Jawab saja sekenanya. Eh. Tunggu. Saya merasa juga ada yang salah dengan aku. Kamu melakukan apa memangnya?

Tidak. Aku pada saya berkata. Hampir kebanyakan dari kita. Melakukannya. Asik memang. Tapi sebenarnya bisa berbeda kenikmatan ketika berbeda peran. Aku lalu memberi tanda supaya saya mengerti.

Hoalah. Perihal itu. Itu sudah maklum dari dahulu. Saya berkomentar. Itu sedikit dosa. Memang. Tapi kalau berbicara dosa. Nanti dikatanya. Pencitraan.

Aku tetap merunduk. Masih merasa tidak nyaman.

Saya merangkul aku. Sudah. Benar kata kamu. Ini cuma resiko. Resiko saling mencicip dan dicicip. Kalau tidak bisa mengurangi. Jangan berbohong. Untuk mengurangi. Jadi orang. Tidak usah palsu-palsu. Kebenaran dan kesalahan tidak bisa jadi satu. Kalau sudah urusan ini. Sebentar. Saya berpikir sebentar. Coba deh. Suruh saya pada aku. Analogikan dengan mencicip daging sapi. Sapi sehat dan bersih pasti enak dagingnya. Kalau begitu. Makan yang cantik saja. Mungkin lezat dagingnya.

Hahaha. Aku tertawa. Analogi yang salah. Bodoh. Tapi pakai analogi yang salah saja lah. Untuk perbuatan yang salah.

Kami terdiam, lalu. Sama-sama melirik bahu kiri kami. Lalu terbahak lagi. Maaf.

Monday, January 3, 2011

Cantik Tanpa Gravitasi



aku tak berlari
pada ia

ia
tak pula
rencana ujung berlariku

aku sedang biasa
lalu muncul saja
lembut seperti angin
silau seperti cahaya
bergradasi seperti warni

ini seperti dikerjai olehNya
dan aku tak pernah ingin meminta ampun
untuk yang satu ini.


Monday, December 27, 2010

Stambul pagi



aku ingin mendekat padamu
meski embun terusik hujan
dan matahari sudah enggan

sebab engkau angin
aku cuma tanah basah

aku tak dapat memandangnya
engkau tetap cahaya
lebih surga dari matahari dan pelangi
terus berwarna-warna

aku masih ingin mendekat padamu
meski awan bergelung pucat
dan angin berdiam tak mau dekat

Thursday, October 7, 2010

Kelakar kamar (mana ada dinding tumbuh bunga)



tadinya aku kira dinding-dinding
di kamarku tumbuh bunga
kelopak-kelopaknya berjatuhan
ketika aku bangun
sampai menutup muka
dan wanginya berkompetisi
dengan udara ventilasi

aku betah
terdesak untuk pasrah
sampai aku berselimut
meyakini halusinasi ini
sudah keterlaluan

aku yang tidak pernah
menanam
jadi pongah
menuai
aku masygul
bagaimana bisa aku
terjebak mainan modern
yang konservatif
cuma angan-angan
yang teramat fiktif

kalau ini mimpi
maka tombol off
akan jadi buronan
supaya tak jadi episod-episod
melelahkan

ini bakal seperti ring tinju
lebih baik tertidur tanpa mimpi adalah aku
dan terjaga tapi tetap berkhayal adalah lawanku

maka aku harus memangkasnya
sebelum semak
bikin pengap
sebelum jadi belukar
dalam kamar

aku mengaku
butuh suasana baru
lihat saja
debu dan sapu
sudah sampai hati berkelahi
di lahan segi empatku
tapi dinding-dinding kaku
tak layak menumbuhkan
bunga seindah itu
alih-alih muskil, malah mustahil

bunga akan di taman
dan tetap jadi taman
karena merusak pertamanan
seperti melanggar undang-undang.

Wednesday, April 28, 2010

Tuhan, aku punya kelainan, teka teki silang tak terselesaikan



ini memang kotak-kotak rapi yang mendatar dan menurun.
tapi, entah berapa kotak lagi.
sudah sekian kata aku tepatkan, saling punya tautan.
sampai waktu ini.

tapi, Tuhan.
aku kini ada di sederet kotak yang amat menyita.
kata yang menurun sekaligus mendatar.
petunjuknya perempuan.
5 kotak, 3 vokal 2 konsonan.
aku yakin sebuah kata yang tepat.
percaya, sampai ketika aku dibuat terhenyak.
aku kalap,
aku ingin lenyap,
cepat-cepat melebur ke tanah yang lembap.
aku bahkan tak sempat menggugat.

tapi, ada kotak-kotak kosong yang butuh diisi segera.
aku diingatkan mereka.
yang satu, akhir dari panjang penempuhan ilmuku.
yang dua, dua manusia yang ingin melihat aku bahagia.
maka aku coba, enyahkan 5 kotak itu.
5 kotak itu sudah bukan aku yang mengisinya.

aku tak tahu, kotak-kotak ku yang lain berakhir kapan.
tapi, Tuhan, mari kita buktikan!
Kau beri waktu, sebab aku punya jam tangan hitam.

Thursday, April 15, 2010

Hasil Renung3

Kebodohan yang mulia adalah kehilangan harga diri demi cinta dan kemuliaan yang bodoh adalah mencintai hingga akhir hayat seseorang yang telah mencampakkannya

Sunday, April 11, 2010

Dikelilingi dinding sempit satu pintu satu jendela, butuh lebih udara.



aku di kamarku
perutku lapar
hanya tersisa biskuit
bukan sarapan yang sulit
hanya siapkan segelas air dan sebenarnya
tetap perlu duit

aku cuma lagi dikelilingi
gambar-gambar bergerak romantis
yang merengek penontonnya menangis
habis tak aku gubris dan tanpa peduli
itu cuma akal-akalan sang pembuat cerita

aku sedang teringat
aku punya memar, di otak
di hati, dan di tulisan ini.
dia seolah-olah tahu
aku tidak jelas tahu
lalu jadinya tak bertemu

aku tak punya ide
taksi mana yang harus aku tumpangi
aku lebih senang dengan bus
membekali yang sudah pupus
murah dan lebih duniawi
maksudku kita bisa lihat dan rasa
realita dunia lewat sana
duniaku tepatnya

aku masih mendengar
nada-nada elektronik
di telinga meski terlalu berisik
aku tak tahu siapa lagunya, siapa
tapi menyenangkan semua
estetika melodi, bagiku tetap saja
segelintir, padahal aku sendiri bukan yang mahir

aku perlu menghisap
dalam-dalam dan kutelan lagi asap
ini baru "teman"
sebab yang dilakukannya cuma diam
setelah dinyalakan
tak perlu repot dengan kata, sikap, dan perasaannya

aku "gak tau ini apa" dengan dia
ke surga segan, ke neraka pun tak mau
intinya bimbang
tak perlu lah kata tambahan

di pinggir kasur
aku jadi melamun dan melantur

apa rasanya di dunia setelah kehidupan?
istigfar dulu.

Wednesday, February 10, 2010

Hasil Renung2

Keberuntungan adalah lelucon terakhir dari takdir.

Sunday, October 18, 2009

Melihat Perempuan Tak Dari Permukaan



yang tampak kasat mata,
jelas aku bukanlah feminis
tapi aku masih punya hak
untuk menyangkal dicap patriarkis

tak usahlah perempuan jadi ultra
pada feminisme
dan lelaki jangan terus
membanggakan budaya patriarki

jangan perempuan pula ingin sebebas-bebasnya
jangan lelaki pun ingin seenak-enaknya

akan bisa aku ucapkan dengan lantang
aku setuju dengan kesetaraan
perempuan punya itu haknya
perempuan tak lemah

tapi salahkah jika lelaki
tetap mau akan sisi lembut
seorang perempuan
lalu ingin melindungi dengan segenap jiwanya

dan jika kalian para feminis
masih ingin berusaha memanjangkan
argumen-argumen ku

tanyakan pada ibuku
apa yang diajarnya padaku