Showing posts with label dunia kamar. Show all posts
Showing posts with label dunia kamar. Show all posts

Thursday, October 7, 2010

Kelakar kamar (mana ada dinding tumbuh bunga)



tadinya aku kira dinding-dinding
di kamarku tumbuh bunga
kelopak-kelopaknya berjatuhan
ketika aku bangun
sampai menutup muka
dan wanginya berkompetisi
dengan udara ventilasi

aku betah
terdesak untuk pasrah
sampai aku berselimut
meyakini halusinasi ini
sudah keterlaluan

aku yang tidak pernah
menanam
jadi pongah
menuai
aku masygul
bagaimana bisa aku
terjebak mainan modern
yang konservatif
cuma angan-angan
yang teramat fiktif

kalau ini mimpi
maka tombol off
akan jadi buronan
supaya tak jadi episod-episod
melelahkan

ini bakal seperti ring tinju
lebih baik tertidur tanpa mimpi adalah aku
dan terjaga tapi tetap berkhayal adalah lawanku

maka aku harus memangkasnya
sebelum semak
bikin pengap
sebelum jadi belukar
dalam kamar

aku mengaku
butuh suasana baru
lihat saja
debu dan sapu
sudah sampai hati berkelahi
di lahan segi empatku
tapi dinding-dinding kaku
tak layak menumbuhkan
bunga seindah itu
alih-alih muskil, malah mustahil

bunga akan di taman
dan tetap jadi taman
karena merusak pertamanan
seperti melanggar undang-undang.

Sunday, April 11, 2010

Dikelilingi dinding sempit satu pintu satu jendela, butuh lebih udara.



aku di kamarku
perutku lapar
hanya tersisa biskuit
bukan sarapan yang sulit
hanya siapkan segelas air dan sebenarnya
tetap perlu duit

aku cuma lagi dikelilingi
gambar-gambar bergerak romantis
yang merengek penontonnya menangis
habis tak aku gubris dan tanpa peduli
itu cuma akal-akalan sang pembuat cerita

aku sedang teringat
aku punya memar, di otak
di hati, dan di tulisan ini.
dia seolah-olah tahu
aku tidak jelas tahu
lalu jadinya tak bertemu

aku tak punya ide
taksi mana yang harus aku tumpangi
aku lebih senang dengan bus
membekali yang sudah pupus
murah dan lebih duniawi
maksudku kita bisa lihat dan rasa
realita dunia lewat sana
duniaku tepatnya

aku masih mendengar
nada-nada elektronik
di telinga meski terlalu berisik
aku tak tahu siapa lagunya, siapa
tapi menyenangkan semua
estetika melodi, bagiku tetap saja
segelintir, padahal aku sendiri bukan yang mahir

aku perlu menghisap
dalam-dalam dan kutelan lagi asap
ini baru "teman"
sebab yang dilakukannya cuma diam
setelah dinyalakan
tak perlu repot dengan kata, sikap, dan perasaannya

aku "gak tau ini apa" dengan dia
ke surga segan, ke neraka pun tak mau
intinya bimbang
tak perlu lah kata tambahan

di pinggir kasur
aku jadi melamun dan melantur

apa rasanya di dunia setelah kehidupan?
istigfar dulu.